M MUFLIKHUN THE LIVING UNIVERSE VIBRI ↗
Cover buku Seni Menunggu karya Muflikhun
Pustaka Momentum
Segera Terbit

Seni Menunggu

Berbasis Waktu dan Kesadaran

Tentang Buku

IDE YANG DIBAWA.

Seni Menunggu dibangun di atas alur Baca → Jalani → Tinjau. Pembaca diajak membedakan apa yang dapat dikendalikan, apa yang memang membutuhkan waktu, apa yang tetap dapat dilakukan selama menunggu, dan kapan keadaan perlu ditinjau ulang. Menunggu tidak diposisikan sebagai kepasifan; keselamatan, hak, perubahan fakta, kesiapan, serta batas waktu tetap dapat menjadi alasan untuk bertindak atau mengubah arah.

Apa yang Dibahas

LIMA PINTU PEMBAHASAN.

Mengenali Objek dan Harga Penantian

Memeriksa apa yang sebenarnya sedang ditunggu, apa yang bergantung pada pihak atau sistem lain, berapa harga masa tunggu, dan bagian hidup apa yang tetap harus berjalan.

BACA — Kenali Penantian

Membaca objek, waktu, bagian yang berada dalam kendali diri, ketergantungan, ketidakpastian, serta keadaan yang membuat penantian layak diteruskan atau dipertanyakan.

JALANI — Hidup Tetap Berjalan

Menjalani masa tunggu tanpa membekukan kehidupan: tetap bekerja, belajar, menjaga diri, menyiapkan kapasitas, dan melakukan bagian yang memang dapat dilakukan sekarang.

TINJAU — Baca Ulang Ketika Dasar Berubah

Meninjau kembali keputusan menunggu ketika fakta, biaya, waktu, kapasitas, peluang, atau dasar penantian berubah.

Lima Pilar sebagai Kapasitas Orang yang Menunggu

Menempatkan Kesadaran Diri, Kesiapan Skill dan Mental, Pengamatan dan Intuisi, Fleksibilitas dan Adaptasi, serta Eksekusi Tepat Waktu sebagai kapasitas yang bekerja sepanjang masa tunggu.

Quote Pilihan

DARI DALAM BUKU.

“Sesuatu boleh belum tiba, tetapi hidup yang sedang berlangsung tidak ikut berhenti.”

Bab 1 — Menunggu Bukan Ruang Kosong

“Seni Menunggu bukan seni bertahan tanpa batas. Ia juga seni mengetahui kapan alasan menunggu sudah tidak cukup untuk meminta bagian hidup berikutnya.”

Bab 19 — Kapan Berhenti Menunggu atau Mengubah Arah?